Musik Klasik Jadi Industri di Jakarta

Musik Klasik Jadi Industri di Jakarta

Musik Klasik Jadi Industri di Jakarta – Musik klasik adalah istilah luas yang biasanya mengarah pada musik yang dibuat di atau berakar dari tradisi kesenian Barat, musik kristiani, dan musik orkestra, mencakup periode dari sekitar abad ke-9 hingga abad ke-21.

Musik klasik Eropa dibedakan dari bentuk musik non-Eropa dan musik populer terutama oleh sistem notasi musiknya, yang sudah digunakan sejak sekitar abad ke-16. Notasi musik barat dipakai oleh komponis untuk memberi petunjuk kepada pembawa musik mengenai tinggi nada, kecepatan, metrum, ritme individual, dan pembawaan tepat suatu karya musik. Hal tersebut membatasi adanya praktik-praktik seperti improvisasi dan ornamentasi ad libitum yang sering didengar pada musik non-Eropa (bandingkan dengan musik klasik India dan musik tradisional Jepang) maupun musik populer. nahjbayarea.com

Musik Klasik Jadi Industri di Jakarta

Sejak abad ke2 dan abad ke 3 sebelum Masehi, di Tiongkok dan Mesir ada musik yang mempunyai bentuk tertentu. Dengan adanya pengaruh dari Mesir dan Babilon, berkembanglah musik Hibrani yang dikemudian hari berkembang menjadi musik Gereja.

Musik klasik kemudian disenangi oleh banyak masyarakat, karena adanya pemain-pemain musik yang mengembara serta menyanyikan lagu yang dipakai pada upacara Gereja. Musik klasik tersebar di seluruh Eropa kemudian tumbuh berkembang, dan musik instrumental maju dengan pesat setelah ada perbaikan pada alat-alat musik, misalnya biola dan cello. Kemudian timbulah alat musik Orgel. Komponis besar muncul di Jerman, Prancis, Italia, dan Rusia. Dalam abad yang ke 19, rasa kebangsaan mulai bangun dan berkembang. Oleh karena itu perkembangan musik pecah menurut kebangsaannya masing-masing, meskipun pada permulaannya sama-sama bergaya Romantik. Musik menurut Aristoteles mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme. Mulai abad 20, Prancis menjadi pelopor dengan musik Impresionistis yang segera diganti dengan musik Ekspresionistis.

Konser kelompok orkestra Jakarta City Philharmonic yang digelar Rabu malam, 18 April 2018, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki dipadati pengunjung. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai pihak penyelenggara harus menolak ratusan orang yang tidak kebagian tiket pementasan. Dari 1.700 orang yang ingin menonton, hanya 1.000 orang yang bisa masuk.

Aksan, Komisaris Jakarta City Philharmonic yang juga anggota Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta mengatakan, ini menjadi sambutan penonton yang paling luar biasa, mengingat di dua konser sebelumnya penonton tidak sebanyak konser yang sekarang. Bahkan pihaknya harus memindahkan konser dari biasanya di Gedung Kesenian Jakarta, kini digelar di Teater Jakarta. Itu pun tidak semua penonton yang telah mendaftar bisa masuk.

“Ini sangat fenomenal, antusiasme bagus, padahal karya-karya yang dibawakan ini juga bukan karya-karya yang gampang didengar kuping awam, tapi mungkin memang, apa yang dinikmati kaum elitis, kaum awam sekarang juga ingin nikmati, untuk itu kita kasih keterbukaan ini, dua kali konser juga grtais tapi tidak sebanyak ini,” kata Aksan.

Lebih jauh Aksan mengatakan, musik klasik di Jakarta sudah seharusnya besar dan menjadi sebuah industri tersendiri. Jika berkaca dari luar negeri, kota-kota besar dunia menurut Aksan, selalu punya ekosistem yang bagus terhadap perkembangan musik klasik. “Enggak menutup kemungkinan juga di Jakarta kita bisa jadi industri. Saya berharap kita punya tingkat kualitas pemain musik yang mungkin bisa disejajarkan dengan Asia, mungkin bagus-bagus dengan Eropa, karena kita biasa tumbuh maka standar kita akan naik. Paling enggak kalau ada penyanyi dari luar datang ke Indonesia, mereka gak perlu bawa orkesnya sendiri, mereka sudah bisa percaya pakai orang Indonesia,” ungkap Aksan.

Aksan menyadari, perkembangan musik klasik di Indonesia, khususnya di Jakarta terus tumbuh dari waktu ke waktu. Jakarta sebagai kawasan urban sudah semestinya menjadikan musik klasik sebagai satu budaya yang perlu dipelihara dan diapresiasi, atau paling tidak Jakarta dapat dicontoh kota lain dalam hal perkembangan musik klasiknya.

“Nanti begitu Jakarta, kota lain misal Surabaya tiba-tiba muncul, menghidupkan kembali sekolah musik klasik, atau kota-kota lain juga. Ini sebenarnya keterkaitannya besar sekali, dan orang Indonesia pada dasarnya sangat bakat di musik,” kata Aksan menambahkan.